Sejarah PKPT IPNU IPPNU UIN Walisongo Semarang

Periode 1 PK IPNU IPPNU UIN Walisongo: Perspektif Mas Basrowi

Sejarah Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU-IPPNU UIN Walisongo Semarang merupakan kisah perjuangan dan dedikasi yang menarik untuk ditelusuri. Cerita ini bermula pada tahun 2016, ketika seorang mahasiswa bernama Basrowi, yang saat itu aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), menghadiri acara Badan Pengkajian Ulama Nusantara (BPUN) ke-2. Di acara tersebut, ia menjadi pemateri yang membahas ideologi NU dan ancaman dari kelompok HTI di kampus-kampus.

Momen penting terjadi ketika para peserta, termasuk Basrowi, ditanya tentang keterlibatan mereka dalam organisasi NU di kampus. Jawaban spontan Basrowi saat itu tanpa disadari menjadi benih awal terbentuknya PKPT IPNU-IPPNU di UIN Walisongo. Tiga bulan setelah peristiwa tersebut, Basrowi diajak oleh temannya, Mbak Icha, untuk mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Pengalaman Makesta ini menjadi titik balik bagi Basrowi. Dua hal yang sangat membekas dalam ingatannya adalah sesi Forum Grup Discussion (FGD) yang membahas pentingnya politik dalam berdakwah, dan momen pembaitan yang penuh khidmat. Ia merasakan kehadiran spiritual para kiai dan guru, sesuatu yang menurutnya tidak ia temukan dalam organisasi lain. Pengalaman ini memperkuat tekadnya untuk membentuk PKPT IPNU-IPPNU di kampusnya.

Namun, perjalanan pembentukan PKPT tidaklah mulus. Pada tahun 2017, struktur organisasi masih berupa "bayangan" saja, dengan keanggotaan yang lemah dan semangat yang belum berkobar. Ketika Pimpinan Wilayah (PW) mendesak untuk segera dilakukan pelantikan, pihak IPPNU masih ragu karena belum memiliki struktur kepengurusan yang jelas.

Melalui serangkaian pertemuan dan diskusi, akhirnya Basrowi dipercaya untuk menjadi ketua. Dengan dorongan dari kader-kader PW dan PC, serta semangat yang menggebu-gebu, Basrowi mengusulkan tanggal pelantikan pada 9 Desember 2017. Pemilihan tanggal ini memiliki makna simbolis, mengacu pada jumlah Walisongo, dan bertepatan dengan masa liburan semester yang memungkinkan banyak anggota hadir.

Pelantikan pertama diadakan di gedung Muslimat NU Ngaliyan, di depan kampus 2 UIN Walisongo. Momen bersejarah ini tidak lepas dari tantangan. Beredar desas-desus bahwa PMII akan menyerang tempat pelantikan, meskipun ada juga pihak PMII yang justru membantu proses tersebut. Pelantikan PKPT di UIN Walisongo ini menjadi pemicu keberanian bagi kampus-kampus lain untuk membentuk PKPT mereka sendiri.
 
Sehari setelah pelantikan, ketegangan meningkat ketika Basrowi diundang untuk bertemu dengan kader-kader PMII. Pertemuan ini nyaris berujung pada kekerasan fisik. Situasi semakin rumit ketika organisasi-organisasi lain seperti HMI dan IMM juga mulai menunjukkan eksistensi mereka di kampus, yang dianggap sebagai kegagalan PMII dalam mengontrol dinamika organisasi di kampus.

Puncak ketegangan terjadi pada 12 Desember, ketika PKPT diundang untuk "ngopi" bersama PMII di sebuah kafe. Pertemuan ini berakhir dengan insiden tidak menyenangkan di mana 30 kader PMII meninggalkan tempat tanpa membayar pesanan mereka, memaksa kader IPNU untuk mengumpulkan dana sukarela untuk menutup tagihan.

Pertemuan tersebut juga menjadi ajang perdebatan sengit antara PMII dan PKPT. PMII menganggap PKPT telah mengambil "ladang garapan" mereka, sementara PKPT berargumen bahwa mereka hanya menjaga linearitas organisasi para kadernya. Perdebatan juga menyentuh isu legalitas PKPT, di mana banyak kader PMII yang tidak memahami bahwa menurut AD/ART IPNU, kategori pelajar mencakup siswa, mahasiswa, dan santri.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan tekanan, PKPT tetap berdiri teguh. Mereka mendapat kekuatan dari "tirakat-tirakat" para pendiri dan kiai, serta dukungan dari jaringan IPNU yang lebih luas. Para anggota PKPT selalu menguatkan dan mengukuhkan hati mereka untuk terus membangun, mengembangkan, dan memelihara organisasi mereka.

Menjelang akhir masa jabatannya, Basrowi merasa belum banyak berbuat untuk PKPT. Ia mengusulkan untuk mengadakan pengkaderan, namun usulan ini awalnya ditolak, terutama oleh pihak IPPNU yang khawatir akan risiko yang mungkin timbul. Namun, Basrowi tetap kukuh dengan pendiriannya, didorong oleh fakta bahwa ia akan segera menjabat sebagai ketua KKN dan khawatir tidak bisa fokus mengurus PKPT lagi. Akhirnya, setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi, makesta berhasil diadakan meskipun dengan peserta yang terbatas. Dari makesta ini, lahir kader-kader baru seperti Nadzif dan Albar yang kemudian menjadi pengurus pada masa kepemimpinan Mbak Asri.

Basrowi menekankan pentingnya rasa kekeluargaan dalam PKPT, bahkan mengubah nama kegiatan makesta menjadi "family campground" untuk memperkuat ikatan di antara para anggota. Ia menanamkan semangat bahwa mereka bukan sekadar organisasi, tapi sebuah keluarga. "PKPT boleh hancur, tapi jangan diri kalian," demikian pesan yang selalu ia sampaikan kepada para kader PKPT.


Periode 1 PK IPNU IPPNU UIN Walisongo: Perspektif Mbak Alfi

Sejarah Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) IPNU IPPNU UIN Walisongo Semarang merupakan kisah perjuangan yang penuh liku dan inspiratif. Sebagai bagian dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU), IPNU IPPNU memiliki peran penting dalam mengembangkan potensi generasi muda NU dan menjaga nilai-nilai yang dihormati oleh NU di lingkungan perguruan tinggi.

Perjalanan PKPT IPNU IPPNU dimulai dari kekhawatiran bahwa IPNU kurang serius dalam memperkuat kader di kalangan mahasiswa. Keputusan-keputusan kongres sering kali tidak menghasilkan langkah-langkah substansial untuk meningkatkan pengkaderan di lingkungan Perguruan Tinggi. Kongres IPNU sering terjebak dalam isu-isu yang kurang relevan atau kepentingan politik sejumlah alumni yang tidak berdampak signifikan pada reformasi organisasi.

Sejarah panjang PKPT IPNU dapat ditelusuri sejak Kongres IPNU ke II di Pekalongan pada 14 Januari 1957. Pada kongres ini dan kongres-kongres berikutnya, upaya untuk membentuk departemen kemahasiswaan terus dilakukan. Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Pada Konferensi besar I IPNU di Surabaya, 17 April 1960, justru disetujui pendirian PMII sebagai pengganti departemen kemahasiswaan IPNU.

Legalisasi PKPT IPNU secara nasional baru terjadi pada Kongres IPNU XVIII di Boyolali pada 4-8 Desember 2015. Sebelum itu, status legalitas PKPT IPNU dibagi menjadi dua: PKPT yang berdiri sebelum tahun 2015 di luar Jawa Timur dianggap ilegal, kecuali di Jawa Timur karena PW IPNU Jawa Timur mengeluarkan Peraturan Pimpinan Wilayah (PPW) pada tahun 2010.

Keadaan ini timbul karena beberapa faktor, termasuk tidak adanya lembaga resmi Banom NU yang secara efektif mengoptimalkan pembinaan kader di lingkungan Perguruan Tinggi dan kevakuman aktivis IPNU dari tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC) atau Pimpinan Komisariat (PK) SMA/MA/SMK yang melanjutkan studi di perguruan tinggi.

Proses pembentukan PKPT IPNU melalui beberapa tahapan penting. Dimulai dari Undangan Istighotsah Akbar & Sukses UNAS PW IPNU Jatim pada bulan Maret 2013, yang membuka peluang untuk menyatukan langkah dalam memperjuangkan eksistensi PKPT. Kemudian, serangkaian pertemuan dan forum dilaksanakan, termasuk Silaturahmi Nasional (Silatnas) yang pertama pada bulan Maret 2015 untuk memperkuat hubungan antara PKPT di seluruh Indonesia.

Terbentuknya PKPT IPNU IPPNU UIN Walisongo sendiri memiliki cerita yang unik. Dimulai pada tahun 2014 dengan inisiatif dari Mas Falbgah, meskipun pada awalnya hanya berujung pada pembentukan sebuah komunitas karena keterbatasan SDM. Momentum penting terjadi pada tahun 2016 saat sebuah rakernas di Surabaya, di mana Mas Bas bertemu dengan Alfi. Pertemuan ini membuka peluang diskusi tentang pembentukan organisasi NU di UIN Walisongo.

Latar belakang terbentuknya PKPT UIN Walisongo cukup kompleks. Selain fakta bahwa di Semarang PKPT baru terbentuk di UNNES, faktor lain yang mendorong pembentukan PKPT UIN Walisongo adalah munculnya HTI di wilayah kampus. Selain itu, banyak mahasiswa yang sebel umnya telah mengikuti IPNU IPPNU di ranting dan anak cabang merasa membutuhkan wadah baru yang sesuai dengan nilai-nilai mereka.

Tanggal 9 Desember 2017 menjadi momen bersejarah dengan dilakukannya peresmian dan pelantikan perdana PKPT UIN Walisongo. Namun, perjalanan menuju peresmian ini penuh tantangan. Pada awal pembentukannya di tahun 2016, PMII tidak mendukung dan pimpinan cabang kurang antusias. Bahkan di tahun kedua, PMII masih menentang keras, yang tercermin dalam pertemuan di Hans Kopi.

Tantangan yang dihadapi PKPT UIN Walisongo sangat beragam, mulai dari ancaman personal hingga tekanan dari pihak PMII. Dosen-dosen yang mayoritas alumni PMII juga menjadi hambatan tersendiri. Namun, dengan keberanian beberapa individu seperti Mas Bas, Mbak Alfi, Mas Falah, dan yang lainnya, serta dukungan dari pihak dalam dan luar UIN, PKPT UIN Walisongo akhirnya berdiri tegak.

Proses pengurusan legalitas juga tidak mudah. Pada tahun 2016, rencana untuk mengurus Surat Pemberitahuan (SP) belum mendapatkan persetujuan, sehingga sulit untuk melakukan langkah-langkah lebih lanjut. Periode 2016-2018 menjadi masa transisi yang penuh tantangan bagi PKPT UIN Walisongo.

Pada tahap awal pembentukan, kegiatan PKPT tidak bisa dijadwalkan secara teratur karena kekhawatiran akan kemungkinan pihak PMII mengetahui dan melaporkannya ke cabang. PMII menunjukkan keberaniannya dalam menghadapi PKPT UINWS, memanfaatkan fakta bahwa anggota PKPT masih berada di semester awal dan dianggap sebagai adik kelas.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, PKPT UIN Walisongo tetap berusaha menjalankan kegiatannya. Meski belum memiliki program unggulan, mereka berhasil menyelenggarakan acara makesta dan khataman. Tanpa memiliki bascamp sendiri, kantor MWC menjadi tempat berkumpul sementara untuk PKPT, sering kali dengan bantuan Pak Anang.


Perspektif Beberapa Demisioner PKPT IPNU IPPNU UIN Walisongo

Perjalanan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU IPPNU UIN Walisongo Semarang dimulai dari sebuah ide besar yang tumbuh pada tahun 2016 di kalangan mahasiswa yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU). Mereka merasa penting untuk mendirikan wadah organisasi yang bisa memperkuat semangat Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), meningkatkan kaderisasi, dan menjaga semangat pelajar NU di lingkungan kampus. Banyak di antara mereka yang telah aktif di IPNU IPPNU di daerah asalnya dan merasa semangat ini perlu terus dikobarkan di perguruan tinggi.

Tokoh-tokoh kunci dalam proses pendirian ini antara lain Rekan Ghulam (mahasiswa UNNES yang berperan sebagai pendorong), Mas Falah, Mas Basrowi, Mas Miftah, Mbak Alfi, serta beberapa rekan lainnya. Mereka mengadakan pertemuan dengan senior NU dan tokoh yayasan untuk mengkaji urgensi pembentukan organisasi serta mekanisme yang tepat. Ide pendirian sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2000-an, namun baru dapat terealisasi pada tahun 2017.

Latar belakang utama pendirian organisasi ini adalah keprihatinan terhadap kondisi generasi muda NU di UIN Walisongo yang belum terwadahi dengan baik oleh organisasi yang sudah ada. Para pendiri menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk bersaing dengan organisasi lain seperti PMII, melainkan untuk bersama-sama menjaga generasi muda NU agar bisa berkontribusi dengan nuansa yang lebih "soft" atau menyentuh aspek sosial, kultural, dan keagamaan. Selain itu, pendirian ini juga didorong oleh amanah organisasi yang tertuang dalam PD PRT IPNU IPPNU serta keinginan membantu Pimpinan Cabang Kota Semarang yang saat itu sedang mengalami masa sulit.

Momen penting yang menjadi titik awal terjadi ketika Basrowi, yang saat itu aktif di PMII, menghadiri acara Badan Penelitian Ulama Nusantara (BPUN) ke-2 pada tahun 2016 sebagai pemateri. Jawaban spontannya tentang keterlibatan di organisasi NU menjadi benih awal pembentukan PKPT. Tiga bulan kemudian, Basrowi diajak Mbak Icha mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di UNNES. Pengalaman spiritual saat pembaitan sangat membekas dan memperkuat tekadnya untuk membentuk PKPT di UIN Walisongo.

Pada periode kepengurusan pertama dan kedua (2017-2019), sistematika kepengurusan masih belum tertata dengan baik. PKPT UIN Walisongo dapat dikatakan lahir dari "janin yang prematur", belum memiliki struktur yang matang dan jelas. Kepemimpinan masih sangat bergantung pada Pimpinan Cabang dan terikat dengan UNNES. Kegiatan masih terbatas pada peringatan hari besar Islam dan belum berani mengadakan diskusi intensif karena masih terjadi gesekan dengan PMII.

Penolakan PMII terhadap PKPT dilatarbelakangi dua alasan utama: pertama, mengacu pada peraturan rektor yang menyatakan hanya satu organisasi eksternal NU yang diperbolehkan di kampus; kedua, kekhawatiran kehilangan kader karena menganggap PKPT sebagai organisasi eksternal yang berpotensi menarik kader baru.

Dalam perekrutan anggota, PKPT menggunakan istilah "Family Camp Ground" (FCG) sebagai bentuk pengalihan isu dari gesekan yang ada sekaligus daya tarik bagi calon anggota. FCG pertama dilaksanakan pada periode kedua di bawah kepemimpinan Rekan Nailul dengan diikuti sekitar 13 calon anggota. Istilah FCG sebenarnya memiliki makna yang sama dengan MAKESTA.

Memasuki periode kepengurusan ke-3, PK IPNU IPPNU UIN Walisongo mencapai masa keemasan. Periode ini dipimpin oleh Rekan Nadhif (Ketua IPNU) dan Rekanita Asri (Ketua IPPNU), keduanya merupakan pionir jebolan FCG pertama. Kegemilangan periode ini ditandai dengan memudarnya gangguan eksternal, membuka jalan bagi PK untuk berkembang lebih leluasa.

Struktur kepengurusan periode ke-3 tertata secara optimal dengan 4 departemen (Organisasi, Kaderisasi, Pendidikan dan Dakwah, Minat dan Bakat) serta 2 lembaga (Pers dan Jurnalistik, Kewirausahaan). Meskipun periode ini berlangsung di tengah pandemi COVID-19 yang memaksa banyak kegiatan beralih ke format daring, berbagai program tetap berjalan. Diskusi-diskusi dengan menghadirkan pembicara berkualitas seperti Rekan Ghulam dan Mas Munawar Kholil berhasil meningkatkan kredibilitas organisasi dan menarik banyak peserta.

Prestasi terbesar periode ini adalah pelaksanaan dua kali FCG dalam satu masa kepengurusan. FCG pertama di Kendal berhasil merekrut 70 kader baru, sementara FCG kedua di Gunungpati menambah 29 kader lagi. Keberhasilan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat basis keanggotaan. Berbagai kegiatan pengembangan diri seperti pelatihan MC dan baca kitab yang dipandu Mbak Evi juga dilaksanakan.

Departemen Kewirausahaan aktif dengan program jualan pulsa, merespons kebutuhan mahasiswa akan kuota internet selama perkuliahan online. Sistem dokumentasi yang rapi menjadi warisan penting periode ini, di mana Rekanita Asri memastikan seluruh dokumentasi kegiatan tersimpan dalam satu drive, menjadi sumber informasi berharga bagi generasi selanjutnya.

Kader yang lahir pada periode ke-3 banyak yang kemudian menjadi "diaspora" setelah demisioner, membawa semangat dan nilai-nilai organisasi ke berbagai sektor dan wilayah. Hal ini membuktikan efektivitas program pengembangan kader yang diterapkan.

Setelah periode ke-3, organisasi terus bergerak dengan dinamika kepengurusan selanjutnya. Pada masa kepengurusan Mbak Asri, program kerja fokus pada pembenahan almamater dan administrasi, meski tidak semua berjalan lancar karena kendala partisipasi anggota. Periode Mas Suwarno menunjukkan kontras di mana anggota aktif tetapi koordinator kurang aktif. Dalam pemilihan ketua, Mas Suwarno terpilih meskipun setelah menjadi ketua ia lebih fokus pada IPNU secara umum tanpa mempertimbangkan kondisi anggota.

Logo UIN Walisongo sebagai identitas khas IPNU IPPNU mulai digunakan pada periode Mas Nailul dan diresmikan pada periode Mbak Asri. Hubungan dengan organisasi ekstra kampus lain pada periode ini relatif aman, meskipun sempat muncul isu bahwa pendirian PKPT terkait dengan kekuatan HMI, namun isu tersebut tidak terbukti.

Sepanjang perjalanannya, PK IPNU IPPNU UIN Walisongo menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penolakan, tekanan, hingga pandemi global. Namun para pendiri dan pengurus tetap teguh pada prinsip, mendapat kekuatan dari "tirakat" dan dukungan spiritual para kiai. Mereka selalu menguatkan hati untuk terus membangun, mengembangkan, dan memelihara organisasi dengan semangat kekeluargaan, sebagaimana pesan Basrowi: "PKPT boleh hancur, tapi jangan diri kalian.

Posting Komentar

0 Komentar