Perjalanan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU IPPNU UIN Walisongo Semarang bermula pada tahun 2016, ketika mahasiswa UIN Walisongo yang beraliran Nahdlatul Ulama (NU) merasa perlu mendirikan wadah untuk memperkuat semangat Ahlussunnah wal Jamaah dan menjaga keberlanjutan kaderisasi di lingkungan kampus. Banyak di antara mereka yang telah aktif di IPNU IPPNU di daerah asalnya dan ingin melanjutkan semangat tersebut di perguruan tinggi.
Tokoh kunci dalam proses pendirian ini antara lain Mas Basrowi, Mbak Alfi, Mas Falah, Mas Miftah, serta Rekan Ghulam dari UNNES yang berperan sebagai pendorong. Mereka mengadakan pertemuan dengan senior NU untuk mengkaji urgensi pembentukan organisasi. Ide pendirian sebenarnya sudah muncul sejak tahun 2000-an, namun baru dapat terealisasi pada tahun 2017.
Momen penting terjadi ketika Basrowi menghadiri acara Badan Pengkajian Ulama Nusantara (BPUN) ke-2 pada tahun 2016. Jawabannya tentang keterlibatan dalam organisasi NU menjadi benih awal pembentukan PKPT. Tiga bulan kemudian, Basrowi mengikuti Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di UNNES. Pengalaman spiritual saat pembaitan sangat membekas dan memperkuat tekadnya untuk membentuk PKPT di UIN Walisongo.
Tanggal 9 Desember 2017 menjadi momen bersejarah dengan dilakukannya pelantikan perdana di gedung Muslimat NU Ngaliyan. Pemilihan tanggal ini memiliki makna simbolis mengacu pada jumlah Walisongo. Pelantikan ini menjadi pemicu bagi kampus-kampus lain untuk membentuk PKPT mereka sendiri.
Pasca pelantikan, dinamika hubungan antar organisasi mahasiswa di kampus mengalami perubahahn fase yang cukup signifikan. Terdapat perbedaan pandangan antara PKPT IPNU IPPNU dengan organisasi mahasiswa lainnya terkait dengan keberadaan organisasi baru di lingkungan kampus. Beberapa pertemuan dan dialog antar organisasi dilakukan untuk membahas hal ini, termasuk pertemuan yang berlangsung di sebuah kafe pada 12 Desember 2017. Dalam pertemuan tersebut, terjadi diskusi dan perdebatan mengenai eksistensi PKPT di kampus. Ada perbedaan perspektif mengenai legalitas dan ruang gerak organisasi, di mana sebagian pihak berpendapat bahwa PKPT perlu menyesuaikan diri dengan dinamika organisasi yang telah ada sebelumnya. Tantangan yang dihadapi kala itu sangat beragam, seperti ancaman secara personal maupun kolektif.
Terdapat kekhawatiran terkait dengan interpretasi terhadap peraturan rektor yang menyebutkan tentang organisasi eksternal di kampus, serta potensi dinamika keanggotaan di kalangan mahasiswa NU. Sementara itu, PKPT berargumentasi bahwa keberadaan mereka adalah untuk menjaga linearitas organisasi bagi kader-kader IPNU IPPNU yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi, sebagaimana diatur dalam AD/ART organisasi yang menyebutkan bahwa kategori pelajar mencakup siswa, mahasiswa, dan santri.
Pada periode kepengurusan pertama dan kedua (2017-2019), sistematika kepengurusan masih belum tertata dengan baik. Kegiatan masih terbatas pada peringatan hari besar Islam dan belum berani mengadakan diskusi intensif. Dalam perekrutan anggota, PKPT menggunakan istilah "Family Camp Ground" (FCG) sebagai bentuk pendekatan yang lebih kekeluargaan. FCG pertama dilaksanakan pada periode kedua di bawah kepemimpinan Rekan Nailul dengan diikuti sekitar 13 calon anggota.
Menjelang akhir masa jabatannya, Basrowi mengusulkan pengkaderan untuk regenerasi. Setelah melalui pertimbangan matang, makesta berhasil diadakan meski dengan peserta terbatas. Dari kegiatan ini lahir kader-kader baru seperti Nadhif dan Asri. Basrowi menanamkan semangat kekeluargaan dengan pesan: "PKPT boleh hancur, tapi jangan diri kalian."
Memasuki periode kepengurusan ke-3, PK IPNU IPPNU UIN Walisongo mencapai masa keemasan. Periode ini dipimpin oleh Rekan Nadhif (Ketua IPNU) dan Rekanita Asri (Ketua IPPNU), keduanya merupakan pionir jebolan FCG pertama. Kegemilangan periode ini ditandai dengan meredanya dinamika eksternal, membuka jalan bagi PK untuk berkembang lebih leluasa.
Struktur kepengurusan periode ke-3 tertata secara optimal dengan 4 departemen (Organisasi, Kaderisasi, Pendidikan dan Dakwah, Minat dan Bakat) serta 2 lembaga (Pers dan Jurnalistik, Kewirausahaan). Meskipun periode ini berlangsung di tengah pandemi COVID-19 yang memaksa banyak kegiatan beralih ke format daring, berbagai program tetap berjalan. Diskusi-diskusi dengan menghadirkan pembicara berkualitas seperti Rekan Ghulam dan Mas Munawar Kholil berhasil meningkatkan kredibilitas organisasi dan menarik banyak peserta.
Prestasi terbesar periode ini adalah pelaksanaan dua kali FCG dalam satu masa kepengurusan. FCG pertama di Kendal berhasil merekrut 70 kader baru, sementara FCG kedua di Gunungpati menambah 29 kader lagi. Berbagai kegiatan pengembangan diri seperti pelatihan MC dan baca kitab yang dipandu Mbak Evi juga dilaksanakan. Departemen Kewirausahaan aktif dengan program jualan pulsa, merespons kebutuhan mahasiswa akan kuota internet selama perkuliahan online. Sistem dokumentasi yang rapi menjadi warisan penting periode ini, di mana Rekanita Asri memastikan seluruh dokumentasi kegiatan tersimpan dalam satu drive.
Setelah periode ke-3, organisasi terus bergerak dengan dinamika kepengurusan selanjutnya. Pada masa kepengurusan Mbak Asri, program kerja fokus pada pembenahan administrasi. Periode Mas Suwarno mewarnai perjalanan organisasi dengan dinamikanya tersendiri. Logo PKPT IPNU IPPNU UIN Walisongo sebagai identitas khas mulai digunakan pada periode Mas Nailul dan diresmikan pada periode Mbak Asri.
Sepanjang perjalanannya, PK IPNU IPPNU UIN Walisongo menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dinamika antar organisasi, proses penyesuaian, hingga pandemi global. Namun para pendiri dan pengurus tetap teguh pada prinsip, mendapat kekuatan dari dukungan spiritual para kiai dan semangat kebersamaan. Mereka terus membangun, mengembangkan, dan memelihara organisasi dengan nilai-nilai kekeluargaan yang menjadi ciri khas IPNU IPPNU. Hingga saat ini, organisasi telah mengalami pergantian kepengurusan sebanyak enam kali dan terus berkembang menjadi rumah bagi kader-kader IPNU IPPNU di lingkungan perguruan tinggi.
.png)
0 Komentar