Generasi Muda sebagai Generation As Carriers Of The Banner Qur’ani di Era Society 5.0

 

Generasi Muda sebagai Generation As Carriers Of The Banner Qur’ani di Era Society 5.0

Source: Freepik

Oleh Mochamad Najwa Rizqi Maulana (2104026016)

            Era digital industri 4.0 dengan berbagai macam teknologi dan inovasi baru, menuntut penduduk dunia untuk harus bergerilya dengan sekuat tenaga dan selektif disegala aspek kehidupan untuk membendung diri dari berbagai pengaruh nilai-nilai yang negatif yang sedang dan akan dilakoni di jagad raya ini (Anshori, 2016). Tentunya perannya ini harus dipegang oleh sosok yang tangguh dan berjiwa patriot yang bernama pemuda sebagai sosok the leader of tomorrow (sang pemimpin masa depan) (Irwan Kelana, 2020). Banyak catatan senjarah mengukir peran pemuda dengan tinta emas sebagai pelopor kemerdekaan dan revolusi bangsa (Yumnah, n.d.).

            Indonesia merupakan salah satu negara di dunia mayoritas penduduknya beragama Islam, hendaknya peran al-fata (pemuda) Islam menjadi tongkat estafet dan pioneer besar dalam pembangunan bangsa bukan hanya pembangunan fisik terlebih pembangunan spiritual dan akhlak bangsa yang semakin terinjak dan terkikis oleh era globalisasi dan imformasi yang semakin canggih, disini hendakanya sosok alfata bisa menjadi the hero (pahlawan) dalam menyalamatkan bangsa ini (Pitriani, n.d.).

            Realitanya dalam sejarah dari masa kemasa sosok pemuda memiliki andil serta peranan yang sangat penting terkait dengan masalah peradaban universal, termasuk dalam membangun umat. The best agent of change merupakan frase yang paling tepat menggambarkan sepak terjang pemuda dalam perspektif sejarah Islam maupun dunia (Syabuddin Gede, 2019). Dalam kacamata sejarah peradaban Islam, pemuda merupakan tonggak kebangkitan umat serta sumber kekuatan pembela terhadap aqidah dan ideologi. Islam tidak dapat di lepaskan dari sosok al-fata (Rajab Agustini, 2020). Pertumbuhan dan perkembangan agama Islam itu sendiri karena banyaknya peran aktif pemuda berkualitas didalamnya sebagai kader khalifah dimuka bumi ini dalam memperjuangkan islam yang telah dicetuskan oleh Rasulullah SAW sejak 14 abad yang lalu (Arif Rohman, 2019)

 

Generasi Milenial

            Pemuda dalam bahasa arabnya “fata”. Sedangkan kata “futuwwah” merupakan bahasa arab yang berasal dari “fata”. Etimologinya “fata” itu bermakna pemuda yang tampan dan gagah berani (Misbahul Wani, 2019). Futuwwah etimologinya dapat diartikan jalan hidup pejuang spiritual (spiritual warriorship). kesatriaan spiritual. Interpretasi futuwah itu sendiri sangat berkaitan dengan kepemudaan dalam interaksinya dengan kehidupan spiritual yang bersifat permanen, bukan hanya terpaut pada kepemudaan yang bersifat jasmani. Al-Qur’an Al-Karim sendiri juga menyinggung sosok al-fata (pemuda) (Tarbiyah & Iain, 2015), diantaranya dinukilkan dalam surat Al-Kahfi ayat 10 berbunyi: “(Ingatlah) tatkala para pemu­da itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempur­nakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)

            Dalam penafsiran ayat di atas tentang esensi pemuda diperjelas oleh riwayat dari Sulaiman bin Ja’far, beliau berkata: Imam Ja’far bin Muhammad berkata: “Wahai Sulaiman, siapakah pemuda itu?” kemudian aku menjawab: “pemuda bagi kami adalah orang yang masih muda.” Lantas beliau berujar kepadaku: “Seperti yang engkau ketahui bahwa Ashabul Kahfi semuanya adalah orang-orang tua akan tetapi Allah SWT menyebut mereka sebagai pemuda karena keimanan mereka. Wahai Sulaiman: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan bertakwa maka dialah pemuda.” Pernah dalam kesempatan yang lain Imam Ja’far Ash-Shiddiq menyebutkan: “Pemuda itu adalah seorang mukmin” (Faozan, 2021).

            Saat ini hadirnya pemuda milenial adalah sunnatullah, munculnya generasi ini sebagai akibat kemajuan sains dan teknologi. Pemuda milenial adalah generasi yang lahir mulai tahun 1980-1990-an atau 2000-an dengan karakter pribadi yang kreatif, memiliki ide dan gagasan yang cemerlang, terbiasa berpikir out of the box, percaya diri, pandai bersosialisasi serta berani menyampaikan pendapat di depan publik melalui media sosial (Mahmud, 2005)

            Pemuda milenial cenderung selalu ingin mencari tahu mengenai perkembangan zaman. Mereka mencari, belajar dan bekerja di dalam lingkungan inovasi yang sangat mengandalkan teknologi untuk melakukan perubahan di dalam berbagai aspek kehidupannya (Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2018). Pemuda milenial lebih percaya User Generated Content (UGC) daripada informasi searah, hal yang wajib adalah mempunyai media sosial sebagai tempat bersosialisasi, kurang suka membaca secara konvensional, mengikuti perkembangan teknologi, cenderung tidak loyal tetapi bekerja efektif (Alima Fikri Sodiq dkk, 2018).          

            Pemuda milenial sangat bergantung pada media sosial namun mereka belum memiliki filter yang kuat untuk dapat menyaring informasi yang diterima. Nampak terlihat kecenderungan pengguna internet yang sering tidak peduli dengan nilai-nilai moral dan etika dalam berkomunikasi dan menyebarkan informasi di media sosial. Padahal etika sangat berperan guna menghindari terjadinya konflik dalam bersosialisasi. Oleh karena itu pemuda milenial perlu mempersiapkan diri dengan memperbaiki karakternya (Misbahul Wani, 2019).

            Pemuda milenial juga mempunyai tantangan dalam menghadapi era baru di kehidupannya yakni era society 5.0. Society 5.0 sebagai komplemen Revolusi Industri 4.0 perlu diarahkan pada peran generasi milenial untuk kemajuan bangsa di masa mendatang. Society 5.0 dapat diartikan sebagai suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human centered) yang berbasis teknologi (technology based) (Maria Ulfah, 2015).

            Perkembangan teknologi yang begitu pesat, termasuk adanya peran-peran manusia yang tergantikan oleh kehadiran robot cerdas (Irwan Kenala, 2020). Untuk itu maka diperlukannya pemahaman society 5.0 yang berbasis spiritualitas dan kebudayaan sebagai bekal bagi proses pengembangan generasi milenial yang siap akan problematika dan tantangan (Hasbi Indra, 2016).

             Di era serba instan ini sering tampak berbagai persoalan seperti, maraknya praktik politisasi agama, penyalahgunaan dakwah (Perdana, 2019), eksploitasi umat, hingga banyaknya hate speech, hoax dan fitnah kini membanjiri wajah keberagaman bangsa (Ainissyifa, 2014)(Predy et al., 2019). Menyikapi kondisi seperti ini dibutuhkan pemuda milenial yang dibalut dengan bingkai nilai-nilai rahmatan lil alamin. Rahmatan lil alamin adalah memahami al-Qur’an dan Hadis untuk kebaikan semua manusia, alam dan lingkungan (Masruli Abidin, 2016). Seperti yang tertera pada Al Qur’an Surat Al Anbiya Ayat 107 “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”.

            Rahmatan lil alamin merupakan ciri keagungan Islam, yang penjabaran secara kongkrit diantaranya, orang lain ikut menikmatinya, merasakan faedahnya, terangkat martabatnya (Muchtar, 2021), siapapun membutuhkannya dan semua orang terbantu olehnya. Pelaksanaan Islam rahmatan lil alamin membutuhkan sebuah sikap yang bijaksana dalam mengelolanya, yaitu: sikap yang profesional, tidak mudah terpancing, tidak emosional, tetapi tetap sabar sambil memberikan pemahaman yang lengkap tentang Islam. Pelaksanaan Islam rahmatan lil alamin membutuhkan rasionalitas, penguasaan diri, mencari jalan keluar, pemaaf, kasih sayang, berbaik sangka, tasamuh (toleran), tawasuth (moderat), adil, demokratis (HIMPSI, 2011).

            Seorang muslim yang baik dan yang kaffah adalah yang mampu membumikan nilai-nilai Al-Quran. Nilai-nilai Al Quran yang dipahami benar-benar sesuai dengan kontekstualitas, bukan nilai-nilai yang kaku dan menakutkan. Nilai-nilai yang membuat perilaku muslim disebut sebagai pribadi yang berakhlakul karimah. Ajaran-ajaran yang ada dalam Al Quran adalah pedoman alam semesta. Jika diamalkan maka akan membentuk karakter yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Karakter-karakter itulah yang disebut perilaku moderat. Karakter seperti ini lah yang harus dimiliki generasi milenial menyongsong era society 5.0 (Harries Madiistriyotno, 2019).

 

Character 3T is the Solution

            Pada perkembangan era 5.0 karakter atau pribadi yang berintegritas tentu sangat diperlukan dan dibutuhkan sekali. Hal tersebut mengingat era 5.0 yang diketahui banyak kekurangan pribadi- pribadi yang berintegritas dan berwawasan luas. Pribadi yang kurang berintegritas tersebut dapat terjadi dikarenakan pola hidup serta pengaruh gaya kebarat- baratan, yang menurut penulis hal tersebut juga telah melunturkan budaya yang ada dibangsa sendiri.

            Pendidikan karakter berperan penting dalam menghadapi Era Society 5.0 yang berbasis agama menggunakan pengembangan konsep 5T (Ta’lim, Ta’dib, Tarbiyah, Tadris, dan Tazkiyah) menjadi 3T (Ta’lim, Ta’dib, Tarbiyah) yang menghasilkan satu konsep yaitu Ta’dib. Usulan pengembangan dari konsep ini menghasilkan sebuah pendidikan karakter yang IHSAN (Integrity, Humanity, Spirituality, Adabtability, and Nasionality) kamil. Penjelasan konsep ini dijelaskan pada gambar berikut.


Gambar 1 Pengembangan konsep 3T

 

            Penjelasan dari kata IHSAN pada Gambar 1 diatas sebagai berikut: 1) Integrity/Integritas. artinya pendidikan Islam harus mampu menciptakan atau melahirkan alumni dari lembaga pendidikan yang memiliki integritas. 2) Humanity/kemanusiaan. artinya proses pendidikan yang berlangsung di lembaga pendidikan harus mampu menampilkan nilai-nilai kemanusiaan. 3) Spirituality/spiritualitas. artinya manusia (masyarakat) yang memiliki nilai-nilai spiritual dan aktivitasnya selalu diniatkan sebagai ibadah. 4) Adabtability/adaptasi. Artinya kemampuan manusia untuk menyelaraskan diri dan berdialog dengan lingkungan strategis di sekitarnya, tanpa kehilangan identitasnya. 5) Nasionality/kebangsaan artinya, proses pendidikan dari lembaga pendidikan harus mengajarkan kecintaan pada Tanah Air. Ini merupakan bagian dari batang tubuh seorang manusia dan lembaganya.

            Pemuda milenial yang berkualitas sesungguhnya harus disiapkan melalui beberapa tahap yakni penanaman unsur aqidah, syariah dan akhlak secara kuat dan maksimal, sehingga melahirkan generasi milenial yang cerdas, sabar dan shalih. Memberikan bekal ilmu, sains dan keterampilan berbasis teknologi, sehingga melahirkan generasi yang profersional dan inovatif. Menyiapkan lingkungan, tradisi dan budaya hidup yang mampu mendorong lahirnya generasi yang berkarakter, berintegritas dan istiqamah.

           


DAFTAR PUSTAKA

Ebook

Harries Madiistriyotno. (2019). Generasi Milenial (1st ed.). Tangerang. Indigo Media.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. (2018). Profil Generasi Milenial Indonesia (Ali said dkk (ed.); 1st ed.). Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dilarang.

Syabuddin Gede. (2019). Akhlak Mulia (Gunawan (ed.); 1st ed.). Aceh. PT Naskah Aceh Nusantara.

 

Jurnal

Ainissyifa, H. (2014). Pendidikan Karakter dalam Perspektif Pendidikan Islam. Pendidikan Universitas Garut, 08(01), 1–26.

Alima Fikri Sodiq dkk. (2018). Peran pendidikan karakter di masa remaja sebagai pencegahan kenakalan remaja. Prosiding Penelitian Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(2), 1–12.

Anshori, M. (2016). Pemuda dalam Al-Qur’an dan Hadis. Jurnal Kajian Islam Interdisipliner, 1(2), 227–252.

Arif Rohman. (2019). Pendidikan Islam di Era Revolusi Industri 4.0 (1st ed.). Komojoyo press.

Faozan, A. (2021). Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti.

Hasbi Indra. (2016). Pendidikan Islam Tantangan & Peluang di Era Globalisasi (Siti Mahmudah (ed.); 1st ed.). Deepublish.

HIMPSI. (2011). Buku Pendidikan Karakter.

Mahmud. (2005). Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Epistemologi, Sistem dan Pemikiran Tokoh) (Tedi Priatna (ed.); 1st ed.). Sahifa Press.

Maria Ulfah. (2015). Implementasi Konsep Ta’dib dalam Pendidikan Islam untuk Mewujudkan Siswa Berkarakter. Didaktika, 16(1), 90–104.

Masruli Abidin. (2016). Reformasi Pendidikan dengan Islamisasi Ilmu. EL-BANAT: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam, 6(1), 98–101.

Misbahul Wani. (2019). Pemuda dalam al- qur’an dan as -sunnah: pemuda islam yang berkualitas tidak lepas dari pendidikan orang tua yang totalitas. AL-DZIKRA, 13(1), 71–94.

Muchtar,  m ilham. (2021). Pendidikan al-qur’an pada generasi milenial (M. P. Prof. Pujiati, M.Soc. Sc. Ph.D. Rosyida Nurul Anwar, S.Pd.,M.Pd.I Dr. Feiby Ismail (ed.); 1st ed.). 1, Maret 2021.

Perdana, A. K. (2019). Generasi Milenial dan Strategi Pengelolaan SDM Era Digital. 8, 75–80.

Pitriani. (n.d.). Generasi muda dan kepemimpinan dalam islam.

Predy, M., Sutarto, J., Prihatin, T., & Yulianto, A. (2019). Generasi Milenial yang Siap Menghadapi Era Revolusi Digital ( Society 5.0 dan Revolusi Industri 4.0 ) di Bidang Pendidikan Melalui Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Rajab Agustini, M. S. (2020). Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Literasi Digital Sebagai Strategi Menuju Era Society 5.0. 624–633.

Tarbiyah, F., & Iain, I. (2015). Remaja dalam perspektif pendidikan islam. Al- Izzah, 10(1), 54–70.

Yumnah, S. (n.d.). Peranan pemuda islam dalam menghadapi era globalisasi. STAIPANA Bangil, 1=11.

 

Website

Irwan Kelana. (2020). Pentingnya Bekali Kompetensi Mahasiswa Hadapi Society 5.0 (p. 1). Republika online. https://www.republika.co.id/berita/qw6oqh374/pentingnya-bekali-kompetensi-mahasiswa-hadapi-society-50

Irwan Kenala. (2020). Tiga Komponen Pembentuk Generasi Qurani _ Republika Online (p. 1). Republika online. https://republika.co.id/berita/q9vubz374/tiga-komponen-pembentuk-generasi-qurani


Penulis : Mochamad Najwa Rizqi Maulana

Editor : Althaf  Jr.


Posting Komentar

0 Komentar