PK IPNU IPPNU UIN Walisongo - Frasa "Habis Gelap Terbitlah Terang" milik R.A. Kartini dinilai bukan sekadar judul kumpulan surat, melainkan metafora abadi perjalanan bangsa Indonesia dari kebodohan menuju kecerdasan dan kebebasan berpikir. Kartini yang menulis di tengah kegelapan era kolonial percaya bahwa membaca merupakan pintu utama menuju cahaya pengetahuan untuk membebaskan manusia dari belenggu ketidaktahuan.
Lebih dari satu abad, semangat tersebut dinilai masih sangat relevan sekaligus mendesak untuk terus digaungkan kembali. Indonesia dengan potensi sumber daya manusia yang melimpah hingga kini masih bergulat dengan rendahnya minat baca dan lemahnya budaya literasi. Padahal, literasi merupakan fondasi utama bagi kemajuan berpikir, daya nalar kritis, serta modal penting dalam menghadapi kompleksitas dunia modern.
Kemajuan IPTEK suatu bangsa selalu berjalan beriringan dengan tradisi membaca yang kuat. Tokoh pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, dalam karyanya Pedagogy of the Oppressed menegaskan bahwa aktivitas membaca teks tidak dapat dipisahkan dari upaya memahami realitas kehidupan. Menurutnya, literasi memiliki dimensi pembebasan yang mampu membentuk kesadaran kritis masyarakat agar tidak mudah menjadi objek manipulasi sosial, ekonomi, maupun politik.
UNESCO secara konsisten menempatkan literasi sebagai hak asasi manusia yang fundamental sekaligus prasyarat pembangunan berkelanjutan. Kemampuan membaca dan menulis dipandang sebagai kunci pemberdayaan individu untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Tanpa literasi memadai, masyarakat akan kesulitan mengakses informasi serta mengembangkan keterampilan di tengah dunia yang makin kompleks.
Di era banjir informasi saat ini, budaya literasi sangat berperan dalam membentuk nalar kritis masyarakat agar mampu membedakan fakta dari hoaks. Kritikus media asal Amerika Serikat, Neil Postman, mengingatkan bahaya dominasi hiburan visual instan yang dapat mengikis kedalaman berpikir. Ia menegaskan bahwa kebiasaan membaca melatih pola pikir linier dan reflektif yang sulit dibentuk oleh tontonan serba cepat, seperti fenomena konten video pendek di media sosial hari ini.
Sementara itu, tokoh sastra Indonesia Pramoedya Ananta Toer menekankan bahwa membaca dan menulis adalah sarana mengabadikan pengetahuan. Menurutnya, bangsa yang enggan membaca dan mencatat sejarahnya sendiri beresiko kehilangan jati diri serta arah perjuangan. Hal ini menegaskan bahwa literasi bukan soal keterampilan teknis, melainkan penentu keberlangsungan identitas dan ingatan kolektif sebuah bangsa.
Semangat literasi para pendahulu bangsa dinilai belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Berbagai survei, termasuk studi PISA dari OECD, secara konsisten menempatkan kemampuan membaca siswa Indonesia di jajaran peringkat bawah. Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya akses buku di daerah terpencil, minimnya keteladanan membaca dalam keluarga hingga gempuran media sosial yang menggeser minat membaca.
Krisis literasi tersebut terasa ironis mengingat para pendiri bangsa seperti Soekarno, Kartini, hingga Mohammad Hatta lahir dari tradisi membaca yang sangat kuat. Hatta bahkan menjadikan buku sebagai sahabat sejati yang menemani masa pengasingan dan membentuk cita-cita kemerdekaan Indonesia. Jejak sejarah ini membuktikan bahwa penguasaan literasi merupakan fondasi penting dalam mengasah pemikiran besar serta karakter para tokoh bangsa.
Di samping membentuk nalar kritis, tingkat literasi juga berkorelasi erat dengan produktivitas tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa masyarakat berliterasi tinggi lebih mudah menyerap teknologi baru serta beradaptasi di dunia kerja modern. Ekonom Amartya Sen turut menegaskan bahwa investasi pada literasi merupakan upaya penanggulangan kemiskinan sekaligus kunci pembangunan manusia secara menyeluruh.
Upaya mengatasi tantangan rendahnya minat baca masyarakat memerlukan langkah kolektif dan berkelanjutan dari berbagai pihak. Keluarga memegang peran krusial sebagai unit terkecil untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak usia dini melalui keteladanan orang tua. Penyediaan bacaan menarik serta tradisi membacakan cerita menjadi fondasi utama dalam membentuk kecintaan anak terhadap buku.
Selain itu, sekolah dituntut untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendorong kegemaran membaca dan berpikir kritis. Penyediaan fasilitas perpustakaan yang memadai serta program membaca rutin menjadi elemen penting yang perlu terus dikembangkan. Metode pengajaran juga harus diarahkan untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa ketimbang sekadar mengejar target kurikulum.
Di sisi lain, pemerintah dan berbagai lembaga terkait bertanggung jawab memastikan pemerataan akses bahan bacaan berkualitas hingga ke daerah terpencil. Langkah konkret seperti program perpustakaan keliling, digitalisasi buku, dan subsidi buku murah dinilai ampuh mengatasi kesenjangan literasi. Pemanfaatan teknologi seperti aplikasi perpustakaan digital perlu diarahkan agar masyarakat terbiasa mengonsumsi bacaan yang berkualitas dan mendalam.
PK IPNU IPPNU UIN Walisongo Semarang memandang bahwa krisis literasi di Indonesia harus menjadi perhatian serius seluruh pihak. Membangun budaya membaca dinilai tidak boleh sebatas slogan, melainkan butuh gerakan nyata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Generasi muda, khususnya kader IPNU dan IPPNU, diajak menjadikan membaca sebagai kebiasaan harian demi melahirkan perubahan berbasis kesadaran.
Perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari era kolonial menuju kemerdekaan terbukti tidak pernah lepas dari peran membaca sebagai jalan pencerahan. Warisan semangat R.A. Kartini hingga pemikiran para tokoh dunia menegaskan bahwa literasi merupakan fondasi utama bagi kesadaran kritis dan kemajuan peradaban.
Upaya membangun budaya membaca menjadi tanggung jawab bersama antara lingkungan keluarga, sekolah, pemerintah, hingga masyarakat luas. Dengan menjadikan membaca sebagai gaya hidup, bangsa Indonesia diharapkan dapat terus melangkah dari kegelapan ketidaktahuan menuju terang pengetahuan.
Habis gelap terbit terang, namun terang tak pernah datang sebelum kita menjemputnya
Editor: Muhammad Ikhsan

0 Komentar