Keistimewaan Kelahiran Nabi Muhammad SAW dan Ragam Tradisi Maulid di Nusantara

LENTERA #4

PK IPNU IPPNU UIN Walisongo - Kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Senin, 12 Rabiul Awal, menjadi momen istimewa yang diwarnai berbagai fenomena luar biasa di berbagai belahan dunia. Peristiwa mengagumkan tersebut mengiringi kedatangan Rasulullah SAW sebagai pertanda keagungan beliau bagi seluruh alam semesta.

Berbagai tanda besar muncul menjelang detik-detik kelahiran manusia paling mulia tersebut, salah satunya adalah padamnya api suci penyembahan kaum Majusi di Persia yang telah menyala tanpa henti selama ribuan tahun. Pada saat yang sama, guncangan hebat juga meruntuhkan 14 bangunan di kompleks Istana Kekaisaran Persia sebagai tanda berakhirnya era kezaliman.

Kondisi alam di tanah Makkah yang semula gersang dan tandus pun mendadak berubah menjadi subur usai diguyur hujan. Pepohonan kembali rimbun memanjakan mata, sementara berbagai makhluk hidup seperti burung dan ikan seakan ikut bersukacita menyambut kehadiran beliau ke dunia.

Seluruh rentetan peristiwa ajaib ini menjadi bukti nyata betapa agungnya kenabian Rasulullah SAW sejak awal kedatangannya. Sudah sepatutnya umat Islam menyambut momen bersejarah ini dengan penuh rasa syukur dan kegembiraan sebagaimana yang diperintahkan dalam Al-Qur'an sebagai wujud terima kasih kepada Allah SWT.

Anjuran Bergembira Menyambut Maulid

Dalam kitabnya, Imam Ibnul Haj al-Maliki al-Fasi menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak amal ibadah dan kebaikan setiap 12 Rabiul Awal. Hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat teragung dari Allah SWT, yaitu kelahiran Nabi Muhammad SAW.


قَالَ ابْنُ الْحَاجِ الْفَاسِي: فَكَانَ يَجِبُ أَنْ نَزْدَادَ يَوْمَ الْاِثْنَيْنِ الثَّانِي عَشَرَ فِي رَبِيْعِ الْأَوَّلِ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَالْخَيْرِ شُكْرًا لِلْمَوْلىَ عَلىَ مَا أَوْلاَنَا مِنْ هَذِهِ النِّعَمِ الْعَظِيْمَةِ وَأَعْظَمُهَا مِيْلاَدُ الْمُصْطَفىَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم


Artinya: "Imam Ibnul Haj al-Fasi berkata: Sudah sepatutnya pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal, kita memperbanyak ibadah dan kebaikan, sebagai rasa syukur kepada Allah atas karunia-Nya yang agung, dan yang paling agung dari nikmat tersebut adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW."
(Syekh Yusuf Khatar, al-Mausu'ah Yusufiyah fi Bayani Adillatis Shufiyah, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], juz I, halaman 195)

Kegembiraan dalam menyambut kelahiran Rasulullah juga dapat dimaknai sebagai bentuk rasa syukur atas rahmat Allah SWT. Karena itu, peringatan Maulid tidak semestinya berhenti pada kemeriahan acara, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperbanyak amal dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Sejarah dan Makna Perayaan Maulid

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW atau Maulid Nabi telah berkembang menjadi tradisi yang melekat kuat di kalangan umat Islam Indonesia, khususnya warga Nahdliyin. Momen mulia ini dirayakan secara meriah sepanjang bulan Rabiul Awal hingga bulan-bulan lainnya sebagai ekspresi kecintaan mendalam kepada Rasulullah SAW.

Di Indonesia, perayaan Maulid diisi dengan beragam kegiatan seperti pembacaan kitab Barzanji, pengajian, hingga perlombaan tilawah Al-Qur'an dan selawat. Tradisi ini menjadi wadah syiar untuk mengingat kembali perjalanan hidup manusia paling sempurna yang membawa risalah Allah SWT ke muka bumi.

Pakar Tafsir Al-Qur'an, Prof. Quraish Shihab, menjelaskan bahwa perayaan Maulid secara meriah mulai muncul pada era Dinasti Abbasiyah di masa Kekhalifahan Al-Hakim Billah. Menurut beliau, esensi utama peringatan ini adalah sarana mengenalkan sosok Nabi Muhammad SAW kepada setiap generasi agar tumbuh rasa cinta di hati umat.

Dari sisi hukum Islam, KH Said Aqil Siroj menerangkan bahwa Maulid Nabi termasuk kategori sunah taqririyyah, yaitu perbuatan yang tidak dicontohkan langsung namun mendapat pengakuan dan restu dari Nabi. Rasulullah SAW tidak pernah melarang tradisi memuji dan mengagungkan diri beliau.

Restu tersebut pernah terbukti saat sahabat Ka'ab bin Zuhair melantunkan syair pujian di hadapan Rasulullah SAW. Alih-alih melarang, Nabi Muhammad SAW justru menghadiahi Ka'ab sebuah selimut bergaris (Burdah). Peristiwa bersejarah inilah yang menjadi cikal bakal istilah Qasidah Burdah, yang kain aslinya kini tersimpan di Museum Topkapi, Istanbul, Turki.

Ragam Tradisi Maulid di Indonesia

Keberagaman budaya Nusantara turut melahirkan berbagai tradisi Maulid yang khas di setiap daerah, hasil akulturasi dengan kearifan lokal masing-masing. Berikut beberapa tradisi maulid dari berbagai daerah:

  • Buat Ketupat Sampang (Madura)

Masyarakat membuat ketupat dari anyaman daun kelapa, disajikan pada momen-momen besar keagamaan termasuk Maulid Nabi.

  • Grebeg Maulud (Yogyakarta dan Surakarta) 

Iring-iringan masyarakat mengikuti Sultan beserta pembesar keraton menuju masjid untuk merayakan Maulid, lengkap dengan serangkaian prosesi sebelum mencapai puncak acara.

  • Masak Kuah Beulangong (Aceh) 

Masyarakat Aceh memiliki tradisi memasak kuah beulangong secara gotong royong. Hidangan berbahan dasar daging tersebut dimasak dalam jumlah besar untuk kemudian dinikmati bersama. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari peringatan Maulid, tetapi juga memperkuat kebersamaan antarwarga.

  • Baayun Maulid (Banjar)

Mengayun bayi sebagai simbol rasa syukur atas kelahiran Rasulullah, sesuai makna kata "baayun" yang berarti mengayun atau membuai.

  • Baca Kitab Al-Barzanji

Pembacaan kitab Al-Barzanji menjadi salah satu tradisi Maulid yang umum kita temukan di berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan biasanya diisi dengan pembacaan kisah kehidupan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW, shalawat, tausiyah, serta doa bersama.

Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, semoga cahaya kelahirannya terus menerangi langkah kita, khususnya keluarga besar IPNU IPPNU UIN Walisongo dalam berjuang dan berkhidmah.

Penulis: Rifa dan Nadia
Editor: Muhammad Ikhsan 

Posting Komentar

0 Komentar