Mempelajari
pemikiran dan perjuangan seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap
nilai-nilai kemanusiaan tidak bisa di
pandang sebelah mata. Tentu
dalam mempelajari pemikirannya harus secara komprehensif. Tidak hanya melihat
dari satu sisi saja, namun juga harus melihat dari berbagai sudut pandang.
Sejarah selalu memiliki jalannya sendiri untuk mengalir melintasi ruang dan
waktu.
Tokoh emansipasi nasional, Raden Adjeng (RA) Kartini termasuk diantara sekian sosok yang kisahnya sangat pas sebagai referensi para santriwati. Karena sejarah mencatat bahwa Kartini sejatinya adalah seorang santriwati yang berguru kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Kartini adalah pendorong lahirnya kitab Tafsir Al-Qur'an Jawa pertama di Nusantara.
Tokoh emansipasi nasional, Raden Adjeng (RA) Kartini termasuk diantara sekian sosok yang kisahnya sangat pas sebagai referensi para santriwati. Karena sejarah mencatat bahwa Kartini sejatinya adalah seorang santriwati yang berguru kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Kartini adalah pendorong lahirnya kitab Tafsir Al-Qur'an Jawa pertama di Nusantara.
Perjuangan
ideologisnya dalam menyuarakan kesetaraan hak bagi kalangan perempuan banyak
terinspirasi dari kegiatannya ketika mengaji bersama Kiai Sholeh Darat. Bahkan,
kegelisahan Kartini lah yang menginspirasi Kiai Sholeh Darat untuk
menterjemahkan Al-Qur'an. Sebelumnya, kegelisahan Kartini muncul ketika fakta
yang ada pada masyarakat bahwa masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an, tetapi tidak diperbolehkan
memahami artinya pada zaman itu. Memang pada saat itu, para santri putri yang
belajar ngaji kepada seorang kyai di berbagai pondok pesantren atau “Langgar”
(mushola kecil) hanya sekedar belajar membaca Al-Qur’an dan tidak memahami isi
yang terkandung di dalamnya. Terlebih pada ayat-ayat yang banyak menyinggung
tentang persoalan hak dan kewajiban seorang wanita di dalam islam.
Surat Kartini kepada Stella Zihandelaar
Dalam suratnya kepada Stella
Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:
"Mengenai agamaku, Islam, aku
harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya
dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam.
Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh
memahaminya?"
"Al-Qur’an terlalu suci; tidak
boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim.
Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar
Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca."
"Aku pikir, adalah gila, orang
diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau
menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.
Aku pikir, tidak jadi orang
soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?"
RA Kartini melanjutkan
kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang
dikirim kepada Ny Abendanon.
"Dan waktu itu aku tidak mau
lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi
membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa
asing yang tidak aku mengerti artinya."
"Jangan-jangan, guruku pun tidak
mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari
apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh
mengerti apa artinya."
Berguru
ke Mbah Sholeh Darat
Sampai akhirnya, Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan
menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan
tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta
sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan
asumsi, jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan timbuh. Tentu
hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi
alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan
tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda
itu.
Fakta sejarah
pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan
Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini
sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat. Karena tidak menutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya. Mbah Sholeh Darat sendiri dalam
pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang Tafsir Surat
Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai
Hj Fadhilah Sholeh.
Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:
Takdir
mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholeh Darat. Pertemuan terjadi dalam acara
pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. Kemudian ketika
berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan
diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau
sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik
dengan Mbah Sholeh Darat. Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang Tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak
sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap
kata demi kata yang disampaikan sang kiai.
Ini
bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah
tahu makna ayat-ayat itu.
Setelah
pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh
Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti
anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.
“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.
Kiai Sholeh tertegun, tapi tak
lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.
“Kiai, selama hidupku baru kali
ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk
Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.
Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”
Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis, Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “SubhanAllah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.
Dari riwayat di atas, Kartini
menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang
selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi
inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya
dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Secara historis,
dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena
menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya.
Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan
Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan
Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak
dicurigai dan dipahami penjajah.
Kitab tafsir dan
terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman,Ttafsir
pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula
yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM
Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. Kartini amat menyukai hadiah itu
dan mengatakan:
“Selama ini Al-Fatihah gelap
bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini
ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai
telah menerangkannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami.”
(Inilah dasar dari buku “Habis
Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan
surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah
disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah
RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:
“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju
cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).
Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya. Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.
Dari perjumpaannya
dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat
yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap
inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan
pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah
Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah
tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Kisah
perjalanan dan perjuangan RA Kartini ini bisa menjadi ‘Ibrah’(pelajaran)
dan ‘uswah’(panutan) para santri dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam
di Nusantara. Demikianlah sosok RA
Kartini di lihat dari kaca mata seoarang
Santri.
Salam dari kami kaum santri. Selamat Hari Kartini!
Salam dari kami kaum santri. Selamat Hari Kartini!
*) Tulisan ini disarikan dari Kumpulan surat yang dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht.
*) Buah Karya dari Rekan Nur Koles

0 Komentar